Sabtu, 02 Oktober 2010

DINAMIKA REGIONALISME ASIA SELATAN




Abstract: In South Asia, there is regional organization namely SAARC (South Asian Association for Regional Cooperation) with eight country members: Afganistan, Bangladesh, Bhutan, India, Maldives, Nepal, Pakistan dan Sri Lanka. India and Pakistan as dominance countries in this region have never ending conflict which make worried the other countries. One of problem factor is Kashmir valley struggle and SAARC is the exactly mediator to solve this conflict. In the role progress of SAARC, it is not only manage internal member affair but also interlace relation with other countries and regional even international, such as ASEAN, Rusia, USA and UK.
Keywords: Pakistan, India, Kashmir, SAARC, ASEAN, US, AS, UK
Bila di Asia Tenggara terdapat ASEAN sebagai institusi formal regional, maka di Asia Selatan terdapat SAARC yang menerapkan mekanisme diplomasi dalam menyelesaikan permasalahan internal maupun eksternal sebagai upaya pencapaian kepentingan nasional dari negara-negara anggota.  Keberadaan konflik diantara anggota SAARC sangat mempengaruhi suhu di kawasan ini serta kelangsungan SAARC sebagai sebuah institusi. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini terdapat deskripsi komperehensif dan analisa mengenai seluk-beluk negara di Asia Selatan beserta institusi yang ada di dalamnya.
Konflik India-Pakistan serta Peranan SAARC
Kerjasama regional di Asia Selatan sangat menarik untuk diteliti lebih jauh karena karakteristik bangsa yang memiliki ciri khas sama dan permasalahan yang timbul pun nyaris serupa satu sama lain, oleh karena itu mereka memandang perlu berbuat sesuatu sebagai upaya untuk mewujudkan  terciptanya kawasan  damai di Asia Selatan yang akhirnya melahirkan SAARC di tahun 1985.
Konflik India-Pakistan merupakan konflik yang sangat berpengaruh dan mengganggu di kawasan Asia Selatan di samping konflik-konflik lainnya, karena konflik tersebut melibatkan dua negara besar sekaligus dominan dalam SAARC sehingga upaya kerjasama yang menjadi tujuan awal dari pendirian institusi regional utopis bisa terjadi. Latar belakang dari permasalahan antara India-Pakistan di pengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sejarah kolonialisme Inggris, perbedaan agama, masalah politik, ancaman militer, persaingan pengaruh dan intervensi negara besar. Melalui pertemuan-pertemuan antar negara SAARC yang dilaksanakan setiap tahun, upaya penyelesaian konflik India-Pakistan terus diupayakan meski sering terjadi perbedaan pendapat antar pemimpin negara untuk mencapai kesepakatan bersama. Persaingan yang mengarah pada pola zero sum antara India dan Pakistan, menjadikan konflik bilateral ini tidak mudah hilang atau diselesaikan dengan solusi rasional sekalipun.
Ditinjau dari aspek sejarahnya, pada tahun 1947 Inggris menarik diri dari Asia Selatan kemudian dari situ lahirlah dua negara yaitu India dan Pakistan yang dilatarbelakangi oleh perbedaan agama. India yang mayoritas penduduknya Hindu dan Pakistan yang mayoritas Islam. Perbedaan ini tidak bisa diakomodir oleh pemimpin dalam negeri bahkan merembet pada masalah strata dan kelas dalam masyarakat.[1]Sejak saat itu konflik mengarah pada tataran negara, sehingga bentrokan senjata di perbatasan kedua negara tidak dapat dihindari, apalagi ditambah dengan persoalan pembagian wilayah yang tidak tuntas oleh kolonial Inggris sehingga menambah kompleksitas persoalan. Ketegangan dua negara mencapai klimaks pada September 1965 ketika pasukan India dan Pakistan kembali dikerahkan ke medan perang. Kesepakatan damai akhirnya ditandatangani pada tahun 1966, tetapi tahun 1971 mereka kembali bertempur karena sengketa soal wilayah Pakistan Timur, yang kemudian menjadi Bangladesh akibat tidak tertampungnya aspirasi politik.[2] Pada saat Perang dingin berlangsung, kedua negara adidaya yaitu AS dan US berusaha menyebarluaskan pengaruh, tak terkecuali di Asia Selatan. Pakistan yang merasa terancam oleh India akhirnya mencari perlindungan ke AS dan India lebih merapatkan diri pada US saat itu. Di era yang lebih maju paska Perang Dingin, kedua negara beralih persaingan dalam hal  mempersenjatai diri dengan pengembangan senjata nuklir. Selain sebagai penggetar lawan,  nuklir digunakan untuk meningkatkan pengaruh di Asia Selatan maupun luar kawasan. India dan Pakistan berusaha untuk menjadi pemimpin kawasan meskipun secara de facto sebenarnya India yang lebih memenuhi kriteria, karena memiliki kapabilitas ekonomi dan politik yang lebih tangguh dan stabil menurut saya. Seperti yang diketahui oleh umum, India termasuk salah satu dari negara industri baru yang ”digadang-gadang” akan menggantikan hegemoni AS yang mulai surut beberapa tahun terakhir bersama Cina dan Korea Selatan, sedangkan Pakistan justru mengalami permasalahan dalam proses inisiasi kepemimpinan serta dituduh membiayai militan Afganistan, ini memperburuk sekaligus menghambat kemajuan Pakistan.
Namun konflik diantara India-Pakistan ini ternyata tidak berpengaruh banyak dalam kerjasama ekonomi dan IPTEK, karena alasan pragmatisme untuk terus survive dalam lingkup internasional yang anarki, alasan ini jugalah yang menyebabkan SAARC bisa bertahan sampai sekarang. Keterlibatan SAARC dalam melakukan mediasi tak sepenuhnya dilandasi alasan normatif fungsional  sebuah institusi, karena adanya imbalan seperti: materi (peningkatan pertukaran barang-barang dan sumber-sumber daya diantara kelompok-kelompok tidak terkecuali pihak-pihak yang bertikai dan penengah atau sebaliknya), pengaruh dan dukungan (seperti pemberian hak pembangunan pangkalan, pertukaran informasi, atau bisa juga berupa sesuatu yang tidak terlihat secara nyata seperti janji-janji untuk memberikan dukungan di masa yang akan datang), keamanan (diperoleh dengan cara menurunkan atau mengeliminasi konflik yang terjadi agar tidak meluas ke wilayah lain), status atau reputasi tertentu (berupa peningkatan status pribadi jika yang menjalankan peran mediator adalah individu atau peningkatan prestasi organisasi). Dari kelima macam imbalan di atas, imbalan yang berupa keamanan dianggap dapat mewakili semua imbalan yang lain, karena SAARC sebagai organisasi regional diharapkan mampu untuk menjaga kestabilan dan keamanan kawasan regionalnya dan juga dapat berperan sebagai mediator apabila terjadi konflik di negara-negara anggotanya.[3]
Konflik Kashmir
            Kashmir adalah sebuah wilayah di utara sub benua india. yang dikenal sebagai suatu tempat paling indah spektakuler di dunia. Wilayah ini terbagi oleh tiga negara: Pakistan mengontrol barat laut, India mengontrol tengah dan bagian selatan Jammu dan Kashmir, dan Republik Rakyat Cina menguasai timur laut (Aksai Chin). Meskipun wilayah ini dalam prakteknya diatur oleh ketiga negara tersebut, India tidak pernah mengakui secara resmi wilayah yang diakui oleh Pakistan dan China. Pakistan memandang seluruh wilayah Kashmir sebagai wilayah yang di pertentangkan, dan tidak menganggap klaim India atas wilayah ini. Sebuah pilihan yang disukai banyak orang Kashmir adalah kemerdekaan, namun baik Pakistan dan India menentang hal ini. Meminjam pendapat Mario E Carranza, sejak berakhirnya perang ketiga tahun 1971, hubungan kedua negara yang lahir dari rahim yang sama ini dapat digolongkan ke dalam empat suasana: suasana detente 1972-1979; suasana saling mendekati melalui sejumlah pertemuan bilateral tahun 1980-an; kondisi terbaik dari berlanjutnya diplomasi kerja sama India-Pakistan di luar persoalan Kashmir, ditandai lahirnya SAARC tahun 1985; serta penandatanganan persetujuan untuk tidak saling menyerang instalasi nuklir India-Pakistan.
            Bila disederhanakan sebenarnya ada empat pendekatan mengenai masalah Kashmir yg tak kunjung usai itu. Pertama, pasukan tentara Pakistan berambisi untuk mengalahkan India (karena dulu Bangladesh lepas gara-gara bantuan dari India) dan mengambil alih Kashmir. Kedua, secara geopolitik, Pakistan menganggap Kashmir sebagai kawasan strategis namun tidak aman karena dikelilingi kekuatan militer yg kuat sehingga harus dilindungi. Ketiga, pandangan Islamiah mengenai perang perebutan Kashmir adalah jihad  karena Kashmir dianggap sebagai basis umat Muslim di Asia Selatan. Keempat, inisial “K” pada Pakistan memunjukkan Kashmir (Pakistan: Punjab, (kawasan Afghanistan), Kashmir, Sind and Baluchistan).[4]Bagi India, Kashmir berimplikasi pada lahirnya politik kekerasan dan rasa curiga elemen masyarakat dan pemerintahan, kebijakan militeristik dalam menangani Kashmir bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi serta munculnya berbagai krisis berkelanjutan yang mengancam sistem federalisme dan yang terakhir adalah krisis Kashmir juga menjadi ujian bagi nasionalisme India. Sejak merdeka, India promosi pemikiran homo-indicus, yakni India modern adalah yang homogen, dapat saling tukar, rasional, sekuler, serta punya loyalitas pada pusat/negara, namun nyatanya kemajemukan yang ada justru membawa warna tersendiri dalam bentuk peperangan. Semestinya perbedaan itu untuk disatukan bukan disamakan, bila di negara kita istilahnya sama dengan bhineka tunggal ika yang mengedepankan nilai toleransi.
            Apapun alasannya, konflik kapanpun dan dimanapun pasti menimbulkan korban diantara kedua belah pihak yang bertikai. Andai saja Pakistan dan India memutuskan memberi referendum pada penduduk Kashmir untuk mengatur kehidupannya (bergabung dengan Pakistan, India atau mendirikan negara sendiri) maka keindahan Lembah Kashmir itu tak akan ternoda oleh darah peperangan. Pada tanggal 5 Januari 2004, sebuah kemajuan historis tercapai dengan dimulainya usaha perdamaian yang dilakukan oleh Perdana Menteri Vajpayee dan Presiden Pakistan Pervez Musharraf yaitu berupa kesepakatan di antara kedua pemimpin untuk memulai dialog menyeluruh yang pada akhirnya juga akan menyelesaikan konflik Kashmir. Namun, ketegangan antara India dan Pakistan kembali meruncing pada 27 Desember 2008 lalu dan ketika terjadi insiden itu India langsung mengambil kebijakan luar negeri yang sangat mengagetkan yaitu memutus jalur transportasi kedua negara, yang dibalas Pakistan dengan mengusir duta besar India. [5]Pasang surut ketegangan keduanya memiliki efek domino pada kawasan sekitarnya, yang pada dasarnya tak lepas dari konflik, seperti pemberontakan macan Tamil di Srilanka, kemiskinan Bangladesh di satu sisi dan konflik India-Bangladesh pada sisi lainnya, militan Afganistan yang diindikasikan melakukan tindak terorisme internasional sehingga harus dibumihanguskan, dll.
Hubungan SAARC dalam Lingkup Internasional
Keberadaan ASEAN dalam meredam konflik negara anggotanya, ternyata menarik SAARC untuk menjalin kerjasama dan menjadikannya model percontohan dalam kerjasama ekonomi, memang tak dapat dipungkiri faktor ekonomi menjadi faktor determinan untuk menyelesaikan masalah apapun di era kekinian. Apalagi bila India dan Pakistan mau disatukan, maka peluang untuk menjadi hegemon di lingkup Asia atau bahkan dunia tidak akan terbantahkan karena AS yang notabenenya adalah hegemon incumbent sedang mengalami ”sakit” perekonomian.
Kesimpulan
Perseturuan India-Pakistan yang memperebutkan wilayah kashmir menjadi keprihatinan masyarakat internasional. Jalur seperti diplomasi, mediasi, dan negosiasi sudah dilakukan, namun belum juga menemukan titik terang. Menurut saya masalah yang timbul bukan sekedar wilayah teritorial. tapi sudah menjalar kepada faktor krusial yang memang sangat kompleks dan koersif sifatnya. Pertengahan tahun 2009 ini, perkembangan hubungan kedua negara sudah dapat dikatakan membaik, seperti pada Maret kemarin kedua pucuk pimpinan tertinggi kedua negara melakukan perundingan dengan kesungguhan transparansi pemberitaan media dan setuju untuk tidak bersikap reaksionis terhadap isu-isu terorisme dan fokus terhadap konsesus perdamaian yang mereka perjuangkan setelah sempat tertunda karena insiden Desember kemarin yang melukai parlemen India di Mumbai. Kerjasama SAARC dan ASEAN saya harap dapat menumbuhkan intgrasi kawasan yang lebih luas di lingkup Asia, seperti halnya Eropa dengan Uni Eropanya, agar konsep utara-selatan yang diidentikkan pada mayoritas negara Asia pudar seiring dengan kemajuan yang dihasilkan.
Referensi
Gupta, Sisir. 1996. Kashmir: Study India-Pakistan Relations. Orient Longmans, Bombay. Hal. 69-103
http://the-worldpolitics.com/ diakses 27 Mei 2009
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0401/11/ln/793852.htm diakses 27 Mei 2009
Langkah Perdamaian (semu) antara India dan Pakistan”, www.kompas.com, diakses tanggal 27 Mei 2009
Peck, Connie. The Role of Regional Organization in Preventing and Resolving Conflict dalam Chester A. Crocker, Fen Oster Hampson dan Pamela Aal ed. 2001. Turbulent and Peace:The Challenges of Managing International Conflict. Washington D.C: United States Institute of Peace Press. hal 564




[1]Sisir Gupta. 1996. Kashmir: Study India-Pakistan Relations. Orient Longmans, Bombay. Hal. 69-103

[2]  Langkah Perdamaian (semu) antara India dan Pakistan”, www.kompas.com, diakses tanggal 27 Mei 2009
[3] Connie Peck. The Role of Regional Organization in Preventing and Resolving Conflict dalam Chester A. Crocker, Fen Oster Hampson dan Pamela Aal ed. 2001. Turbulent and Peace:The Challenges of Managing International Conflict. Washington D.C: United States Institute of Peace Press. hal 564


[5]  http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0401/11/ln/793852.htm diakses 27 Mei 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar