Sabtu, 02 Oktober 2010

HUBUNGAN AUSTRALIA DENGAN ASIA



Australia sebagai sebuah negara besar, sudah bisa dikatakan maju dalam berbagai bidang kehidupan baik dalam ekonomi, politik dan juga keamanan. Dengan PDB per tahun sebesar $579.662 juta, Australia menjadi sebagai sebuah negara yang sangat diperhitungkan dan berpengaruh intra kawasan dan juga di kawasan sekitarnya seperti Asia (Hill, 2008). Hubungan antara Australia dan Asia ini tergolong unik terutama terkait dengan Indonesia dan Cina yang merupakan negara berpengaruh di kawasan dan memiliki keterkaitan kerjasama dengan Australia, di satu sisi menjanjikan berbagai peluang namun di sisi lain juga penuh dengan berbagai tantangan. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai perbedaan mencolok diantara kedua benua yang bertetangga, yang terkait dengan kebudayaan, tingkat kemajuan pembangunan, dan orientasi politik yang mengakibatkan pula perbedaan prioritas kepentingan. 
Hubungan Australia-Indonesia   
            Secara geografis, Indonesia adalah negara terdekat Australia. Historisme hubungan keduanya dimulai sejak jaman pra kemerdekaan yaitu sekitar tahun 19650an terkait urusan dagang yang berlanjut hingga jaman kolonialisme berlangsung. Serikat buruh Australia juga tercatat sebagai pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia (http://www.kompas.com). Australia dan Indonesia tetap menjaga hubungan baik sejak saat itu. Namun, dalam perkembangannya terdapat juga beberapa konflik yang terjadi seperti kasus perebutan Irian Barat dan konfrontasi dengan Malaysia dimana Australia lebih berpihak kepada Belanda dan Malaysia ketimbang Indonesia karena takut akan pengaruh komunis dan aksi konfrontatif Indonesia (http://www.kompas.com). Masalah tersebut akhirnya dirundingkan dan memperoleh penyelesaian pada tahun 1962 untuk kasus Papua Barat dan  1965 untuk kasus dengan Malaysia.
Paska tahun 1965, hubungan Australia-Indonesia berkembang semakin luas dan mendalam, seperti bantuan perekonomian yang diterima Indonesia, tujuan wisata penduduk masing-masing negara, dan adanya pertukaran budaya serta pelajar (http://www.kompas.com). Ketegangan kedua negara kembali terjadi saat lima wartawan asal Australia tewas di Timor-Timur atau yang dikenal dengan tragedi Balibo dan tuduhan Australia tentang adanya pelanggaran HAM oleh aparat Indonesia di Timor-Timur. Hal ini menimbulkan kegeraman bagi Indonesia karena penerapan status darutan dilakukan untuk mencegah separatisme di wilayahnya tapi di sisi lain justru digunakan Australia untuk memantik simpati internasional yang sebenarnya memiliki motif terselubung terkait dengan celah Timor yang kaya akan minyak dan merupakan saluran pipa gas di Asia Pasifik (Chauvel, 1989). Belum lagi dengan skandal pemberian visa menetap sementara kepada 42 pencari suaka politik asal Papua Barat yang berakhir dengan penarikan sementara Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu Hamzah Thayeb (http://www.kapanlagi.com).
            Secara umum, hubungan Australia dengan Indonesia bila dikatakan baik tidak juga karena ada banyak selingan konflik yang terjadi. Sehingga lebih tepat bila disebut dengan dinamis terutama dengan didirikannya Lembaga Australia-Indonesia dimana kerja sama tersebut ditujukan untuk kerja sama dalam bidang sosial, budaya dan pendidikan serta semakin intensifnya kerjasama keamanan RI-Australia dalam menangani kejahatan transnasional yaitu terorisme. Hubungan ini semakin intensif pada masa kepemimpinan Kevin Rudd yang bersemangat mengirim warganya untuk belajar tentang Indonesia dan menekankan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang sangat penting di antara bahasa-bahasa Asia yang menjadi target program pengajaran bahasa di sekolah, di samping itu dalam white paper 2009 Indonesia juga termasuk lima besar sekutu Australia (http://www.kapanlagi.com).
Hubungan Australia-Cina
Sedikit berbeda dengan Indonesia yang sama-sama menjalin hubungan dengan Australia, keberadaan Cina sebagai salah satu pasar terbesar di Asia dan pasang surutnya hubungan kedua negara bagaikan sebuah mimpi buruk bagi Australia. Lihat saja, dalam kasus industri logam Rudd tengah berada dibawah tekanan domestik di Australia agar bersikap lebih keras terhadap Cina, untuk melindungi warganya yang kini ditahan yaitu Stern Hu yang diduga melakukan kegiatan mata-mata, penyuapan dan pencurian rahasia negara. Beijing juga marah ketika Australia memberi visa gratis bagi pemimpin etnik Uighur yang berada di pengasingan. Serta pernyataan Australia yang menyebutkan bahwa belanja militer Beijing senilai 70 miliar dollar merupakan sumber ketidakstabilan kawasan (http://www.bbcindonesia.com). Australia tentu saja punya banyak kepentingan ekonomi dengan Cina karena merupakan partner perdagangan terbesarnya, namun Australia juga ingin mengingatkan bahwa Cina juga punya kepentingan ekonomi besar dalam hubungannya dengan Australia dan dengan mitra dagangnya di seluruh dunia (http://www.bbcindonesia.com).
Namun mungkin karena pertimbangan pragmatisme kepentingan, akhirnya pada tanggal 14 Oktober 2009 Menteri Luar Negeri Australia, Stephen Smith mengatakan, ketergantungan ekonomi negaranya dengan Beijing, yang merupakan mitra dagang terbesar, akan membuat keduanya mengabaikan semua perbedaan. Nilai perdagangan kedua negara mencapai 53 miliar dollar AS (http://www.waspadaonline.com). Sebuah tanda mencairnya hubungan tersebut juga tampak ketika Menteri Perubahan Iklim Australia Penny Wong melakukan pertemuan mendadak dengan Wakil Perdana Menteri Li Keqiang dan pertemuan dua petinggi militer masing-masing negara di Beijing.
Sebenarnya bila ditilik dari segi sejarah, hubungan Australia dengan China sudah terjalin sejak berakhirnya perang dunia kedua dimana kedua negara sepakat untuk menjalin kerja sama diplomatik. Hubungan kedua negara kemudian berlanjut dengan munculnya berbagai kesepakatan-kesepakatan yang terjalin baik itu dalam hal ekonomi, politik, maupun sosial budaya, terutama penjualan Australia atas gas lama kepada China yang dimulai sejak tahun 2003 (Robertson, 2006). Di bidang pendidikan pun Australia memiliki kebijakan bagi para pelajar Cina dan negara ASEAN lain untuk belajar di Australia. Selain itu, hubungan tersebut juga terjalin dalam hal pariwisata.  
            Keharmonisan hubungan Australia dengan Cina juga terlihat dari pengakuan satu Cina oleh pemerintah Australia (Robertson, 2006). Kunjungan Alexander Downer ke Beijing pada tahun 2004 juga memperlihatkan bahwa Australia secara serius ingin membangun hubungan yang lebih dari sekadar ekonomi dengan China. Tantangan yang selanjutnya muncul adalah kerjasama Australia dengan Jepang karena mengingat persaingan yang terjadi antara Cina dan Jepang baik dalam hubungan bilateral maupun dalam lingkup regional. Hal ini menimbulkan dilema tersendiri bagi Australia, sejauh ini Australia berharap kerjasama yang terjalin dengan kedua negara tersebut tidak menimbulkan sebuah permasalahan baru (Robertson, 2006). Salah satu titik penting hubungan kedua negara juga tercermin melalui kunjungan PM Kevin Rudd ke Beijing pada tahun 1998 guna melakukan dialog strategis bilateral yang juga membahas masalah konflik Tibet (Vaughn, 2008).

Kesimpulan
Posisi Asia bagi Australia sangat penting begitu pula sebaliknya. Meskipun banyak konflik yang terjadi diantara mereka terkait masalah kepentingan nasional masing-masing negara namun diharapkan ancaman dan konflik yang ada ini dijadikan sebagai sebuah tantangan dalam mewujudkan integrasi yang lebih meluas dan mendalam terutama di Asia Pasifik, meskipun pada masa John Howard, hubungan Australia dengan Asia secara umum kurang harmonis. Hal ini terkait dengan keikutsertaan Australia menyerang Iraq yang membuat beberapa pemimpin negara di Asia marah kepada kebijakan Australia tersebut. Namun saat ini, dengan pemerintahan baru di bawah Kevin Rudd, prospek stabilitas kawasan memiliki prospek yang lebih cerah. Bahkan Kevin Rudd menyebut Asia sebagai tiang ketiga kebijakan luar negeri Australia (Hill, 2008 dalam cetak.kompas.com).
            Selain dengan Cina dan Indonesia, Australia juga menjalin kerjasama perdagangan dengan Singapura tekait dengan sistem perdagangan bebas (FTA), konsultasi keamanan dengan Thailand dan Jepang, serta pengiriman utusan ke Korea Utara. Selain itu, Australia juga mendukung berbagai kebijakan regional menyangkut integrasi yang terjalin dalam Asia Pacific Economic Forum (APEC), ASEAN, dan EAST Asian Summit (EAS) (Vaughn, 2008). Melalui berbagai kerjasama tersebut, diharapkan hubungan Australia dengan Asia bertambah komprehensif dan saling menguntungkan.

Referensi
Australia Peringatkan Cina 15 Juli 2009 diakses dari http://www.bbcindonesia.com pada 14 Desember 2009
Dunn Mengganggu Adam Malik Keras. Tempo. 26 Maret 1977 dalam Kitley .P. Chauvel. R. dan Reeve .D. (peny.). 1989. Australia di Mata Indonesia.  Kumpul Pers Indonesia 1973-1988. Jakarta: PT Gramedia. h. 87.
Hill, David, T. 2008. Perintis Tahap Baru Hubungan Australia-RI. Kompas, 12 Juni 2008. [online] diakses dari http://cetak.kompas.com/read/xml/ pada 14 Desember 2009
Hubungan antara Australia dan Indonesia BAB 11 diakses dari http://www.kompas.com pada 14 Desember 2009
Hubungan RI-Australia Akan Membaik di Era Rudd 14 Juli 2008 diakses dari http://www.kapanlagi.com pada 14 Desember 2009
Peluang dan Tantangan Hubungn Bilateral Indonesia-Australia 2004 diakses dari http://www.kbri-canberra.org.au pada 14 Desember 2009
Robertson, Andrew. 2006. Australia’s Position in Asia: Closer than Ever. Vol 22, No. 2
Vaughn, Bruce. 2008. Australia: Background and U.S. Relations. Congressional Research Service Report for Congress

Tidak ada komentar:

Posting Komentar