Kamis, 07 Oktober 2010

TEORI GEOPOLITIK MUTAKHIR



Dalam geopolitik terdapat beberapa macam teori yang diantaranya memadukan dengan penerbangan, seperti teori geopolitik Alexander Procofieff de Seversky, yang menekankan kekuatan dirgantara lebih dalam untuk memenangkan peperangan melawan musuh, untuk itu lebih menguntungkan membangun armada atau angkatan udara sebab memungkinkan beroperasi sendiri tanpa melibatkan angkatan lain, di samping itu dapat menghancurkan musuh di kandangnya atau di belakang garis pertempuran serta bisa menjadi kekuatan dunia.[1] Ketika Seversky mempublikasikan gagasannya, Amerika dan Uni Soviet merupakan dua negara penting yang mempunyai kekuatan udara. Dengan supremasi tersebut, negara lain yang akan melintas wilayah udaranya harus meminta izin terlebih dahulu kepada negara yang memiliki supremasi udara tersebut, sehingga ia menyarankan pada Amerika Serikat untuk lebih memperhatikan air power daripada army dan navy. Hal ini tak lepas dari kemajuan teknologi di AS sendiri yang dapat menyokong pembangunan air power-nya dengan dukungan kemajuan teknologi tersebut memungkinkan AS dapat melakukan pengawasan dan menciptakan supremasi udara di wilayah lain. Seversky melihat bahwa potensi air power akan sangat besar dimiliki oleh AS dan Soviet serta Inggris yang berpotensi juga. Inilah yang disebut oleh Seversky sebagai age of intercontinental flight. Teori Seversky ini kemudian memunculkan istilah airman yang identik dengan instrumen air power yaitu pesawat terbang (jika Mahan dengan sea power-nya memunculkan istilah seaman dan Mackinder dengan heartland-nya memunculkan landman). Dalam menyampaikan teorinya Seversky menggunakan peta equidistant berdasarkan azimuth dengan titik pusat kutub utara, untuk menunjukkan dominasi Amerika dan Uni Soviet dalam kekuatan udaranya. Dalam peta ini dia menunjukkan ”area of intersection” yang ia sebut sebagai ”area of decision”. Dalam teori Seversky ditegaskan : “ Barangsiapa memegang kendali “area of decision”, akan menjadi kekuatan dunia yang dominan.
Sedangkan pada tahun enam puluhan, Dr. Saul Cohen, seorang Professor Geografi Universitas Boston yang juga merupakan dosen di Naval War College, merumuskan teori baru tentang geopolitik yang memandang dunia dalam konteks ruang, dimana tidak ada batas-batas nasional negara. Cohen membagi dunia berdasarkan wilayah- wilayah geostrategis. Dua wilayah utama adalah ”regim maritim” (maritime realm) yang tergantung pada perdagangan dan ”regim daratan eurasia” (eurasian continental realm), yang lebih mengarah pada kegiatan di daratan. Cohen berpendapat negara adi daya dengan sebutan negara utama (first order state). Negara-negara utama yang termasuk dalam regim maritim menurut konsep Cohen adalah  Jepang, Amerika dan Uni Eropa. Sedangkan negara-negara yang masuk katagori regim daratan adalah China dan Uni Soviet sebelum pecah. Menurut teori Cohen negara yang dipisahkan oleh dua regim tersebut masuk sebagai negara ”sabuk pemisah” (shatterbelt states). Teori geostrategis Cohen juga menyebutkan adanya negara-2 independen seperti Pakistan, India, Thailand dan Vietnam. Model pemikiran Cohen juga menyebutkan adanya negara asimetris (asymmetrical states) yaitu negara yang mempunyai sifat/kelakuan yang berbeda dibandingkan negara lain di sekitarnya seperti Israel dan Korea Utara.
Selanjutnya adalah Wallerstein, ia mengajukan tesis tentang perlunya gerakan populis berskala nasional digantikan oleh perjuangan kelas berskala dunia atau yang dikenal teori sistem dunia adalah adanya bentuk hubungan negara dalam sistem dunia yang terbagi dalam tiga bentuk negara yaitu negara sentral, negara semi pinggiran dan negara pinggiran. Ketiga bentuk negara tersebut terlibat dalam hubungan yang harmonis secara ekonomis dan kesemuanya akan bertujuan untuk menuju pada bentuk negara sentral yang mapan secara ekonomi. Lebih jauh Wallerstein menyatakan bahwa pembangunan nasional merupakan kebijakan yang merusak tata sistem ekonomi dunia. Alasan yang disampaikan olehnya, antara lain :
1. Impian tentang keadilan ekonomi dan politik merupakan suatu keniscayaan bagi banyak negara.
2. Keberhasilan pembangunan pada beberapa negara menyebabkan perubahan radikal dan global terhadap sistem ekonomi dunia.
3. Strategi pertahanan surplus ekonomi yang dilakukan oleh produsen berbeda dengan perjuangan kelas yang berskala nasional.
Perubahan status negara pinggiran menuju negara semi pinggiran ditentukan oleh keberhasilan negara pinggiran melaksanakan salah satu atau kombinasi dari strategi pembangunan, yaitu strategi menangkap dan memanfaatkan peluang, strategi promosi dengan undangan dan strategi berdiri diatas kaki sendiri. Sedangkan upaya negara semi pinggiran menuju negara sentral bergantung pada kemampuan negara semi pinggiran melakukan perluasan pasar serta introduksi teknologi modern. Kemampuan bersaing di pasar internasional melalui perang harga dan kualitas. Negara semi pinggiran yang disampaikan oleh Wallerstein merupakan sebuah pelengkap dari konsep sentral dan pinggiran yang disampaikan oleh teori dependensi. Alasan sederhana yang disampaikannya adalah, banyak negara yang tidak termasuk dalam dua kategori Terdapat dua alasan yang menyebabkan sistem ekonomi kapitalis dunia saat ini memerlukan kategori semi pinggiran, yaitu dibutuhkannya sebuah perangkat politik dalam mengatasi disintegrasi sistem dunia dan sarana pengembangan modal untuk industri dari negara sentral. Disintegrasi sistem dunia sangat mungkin terjadi sebagai akibat “kecemburuan” negara pinggiran dengan kemajuan yang dialami oleh negara sentral. Kekhawatiran akan timbulnya gejala disintegrasi ini dikarenakan jumlah negara miskin yang sangat banyak harus berhadapan dengan sedikit negara maju. Solusi yang ditawarkan adalah membentuk kelompok penengah antara keduanya atau dengan kata lain adanya usaha mengurangi disparitas antara negara maju dan negara miskin. Secara ekonomi, negara maju akan mengalami kejenuhan investasi sehingga diperlukan perluasan atau ekspansi pada negara lain. Upaya perluasan investasi ini membutuhkan lokasi baru pada negara miskin. Negara ini kemudian dikenal dengan istilah negara semi pinggiran.
Jadi dengan beragamnya teori geopolitik yang ada, maka kebijakan setiap negara untuk menyusun geostrategi diharapkan tidak salah pilih tapi berdasarkan bentuk geografi politik negara tersebut, apakah berupa kepulauan, daratan atau maritim sehingga keputusan politik dalam upaya pencapaian kepentingan nasional akan mudah dicapai, dengan pertimbangan dari aspek lain seperti ekonomi. Keunikan saya temui pada saat membaca teori Wallerstein yang lebih menekankan pada aspek ekonomi, padahal teori yang dibuatnya menjadi acuan pada disipiln ilmu geopolitik, bisa jadi ini adalah bentuk politik terselubung yang dikemas dalam bentuk ekonomi.
REFERENSI.
Immanuel Wallerstein, “How Has Latin America Moved Left?” Commentary, no. 187, June 15, 2006.
Mansyur, Hamdhan. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta : Gramedia







[1].Mansyur, Hamdhan. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta : Gramedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar