Sabtu, 02 Oktober 2010

PERANAN CINA DAN AMERIKA DALAM REGIONALISME AMERIKA LATIN


            Satu benua bukan berarti satu kepentingan, ini dapat diamati dalam hubungan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara di Amerika Selatan (AL). Amerika Serikat yang merupakan motor penggerak neoliberalisme berkebalikan dengan sebagian negara di Amerika Latin yang mayoritas menganut sosialis. Pasca kemenangan para pemimpin anti-neoliberalisme di sebagian besar negeri di Amerika Latin, panggung politik dan ekonomi dunia unipolar saat ini mulai mendapat tandingan oleh aliansi antara Chavez-Venezuela; Castro-Cuba; Morales-Bolivia; Da Silva-Brazil; Correa-Ekuador; Ortega-Nicaragua bersama pasangnya gerakan rakyat yang menolak neoliberalisme di AL.
Sebuah kerjasama regional dan internasional yang baru pun dibentuk, yaitu ALBA selain MERCOSUR (Mercosur dibentuk tahun 1991 oleh Argentina, Brasil, Paraguay dan Uruguay guna memperkuat para anggotanya dalam menghadapi perkembangan perekonomian dunia serta memiliki pasar dan tarif impor bersama), SACN, Caricon dll. yang lebih dahulu hadir. Hal ini terwujud dengan bantuan tenaga medis, permodalan dan teknologi, pengolahan minyak mentah, bibit dan pupuk. Meskipun terdapat perbedaan karakter, konsistensi, dan derajat program-program ekonomi alternatif yang sedang dijalankan di AL, ada satu persamaan semangat yang diterima luas oleh sebagian besar pemimpin kiri AL dan gerakan rakyatnya, yakni Neoliberalisme bukan jalan keluar, dan dominasi AS harus segera diakhiri, dan sosialisme adalah solusi yang dirasa paling tepat. Dalam pencapaian usaha tersebut maka dilakukan kemandirian dibidang politik dan ekonomi (menolak NAFTA, AFTA maupun IMF), mengoptimalkan fungsi ALBA, menerapkan demokrasi partisipatoris dimana partisipasi rakyat yang selama termarginalkan mulai bangkit, melakukan pemerataan teknologi dan peningkatan sumber daya manusia (lewat pendidikan dan kesehatan gratis, teknologisasi pertanian, pembangunan pusat-pusat pengolahan minyak mentah, komputerisasi yang selama ini telah berjalan di Kuba), perlindungan lingkungan (pada tahap awal dengan pembangunan pusat-pusat energi alternatif dan penghematan konsumsi minyak), serta media massa pun tidak lagi dibatasi.
            Langkah AL ternyata tak berhenti sampai disitu, untuk mengimbangi dominasi AS, para menteri dari 33 negara Amerika Selatan dan Liga Arab berencana membentuk aliansi politik. Dalam rangka itu, para menteri dari negara-negara di dua wilayah tersebut bertemu di Brasil. Itu adalah pertemuan tertinggi pertama di antara dua kawasan yang relatif sama-sama membenci hegemoni Amerika Serikat. Para menteri akan memusatkan pembicaraan soal cara peningkatan hubungan ekonomi. Mereka akan membahas juga dominasi AS di segala bidang, mulai dari keinginan AS mengubah rezim di negara lain hingga ke globalisasi yang melindas dunia ketiga."Adalah penting bagi negara-negara di kawasan itu untuk memperlihatkan diri sebagai pihak yang telah dikibuli Barat," kata Amany Jamal, seorang pakar tentang perkembangan politik di Timur Tengah, di Princeton University.[1]
Pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya Presiden Silva untuk mendorong persatuan negara-negara berkembang. Hal itu penting untuk memperkuat barisan agar suara mereka didengar ketika membicarakan berbagai isu seperti reformasi PBB. Kekuatan negara berkembang juga perlu untuk menghadapi negara maju di World Trade Organization (WTO), untuk memaksa negara maju menghapus subsidi pertanian. Subsidi bernilai miliaran dollar AS di negara maju telah membuat produk-produk pertanian negara berkembang terhambat masuk ke negara maju. Pertemuan itu juga akan dijadikan sebagai landasan awal pembentukan blok perdagangan bebas di dua kawasan. Para pejabat Brasil juga mengatakan pertemuan itu akan memusatkan pembicaraan pada cara pemberantasan kemiskinan dan kelaparan. Pertemuan itu juga dijuluki sebagai sebuah langkah untuk memantapkan kerja sama "Selatan-Selatan". Tujuannya adalah agar memperkuat blok "Selatan-Selatan" menghadapi dominasi negara-negara maju di segala bidang dalam hubungan internasional. Ini terkait dengan teori Wallerstein bahwasanya setiap negara berpeluang untuk menjadi lebih maju, yang termasuk kategori ” selatan/periphery ” bisa menjadi ”utara/core maupun semiperypheri” meskipun secara geografis tetap di selatan.
Negara-negara di Amerika Selatan juga sudah melakukan pendekatan agresif dengan China dan negara lain di Asia.[2] Hal itu bertujuan mengurangi ketergantungan pada negara-negara maju, dalam hal ini adalah negara Barat. China sudah sepakat membeli berbagai produk dari Brasil dan membeli tembaga dari Argentina sebagai wujud konkret kerjasama timbal balik yang menguntungkan kedua negara. Amerika Serikat pun tak tingga diam apalagi dalam pemerintahan baru Obama, yang dari awal ingin melakukan normalisasi hubungan dengan semua pihak yang bersitegang dengan AS pada pemerintahan Bush, salah satunya adalah negara dan organisasi regionalisme di Amerika Selatan. "Kita berkompetisi untuk meraih perhatian dan hubungan dengan sedikitnya pihak Rusia, China dan Iran," ujar Hillary, dan AS memiliki kepentingan dengan negara manapun. Hillary mengatakan Washington juga mengupayakan hubungan lebih baik dengan Presiden Bolivia Evo Morales yang mengusir duta besar AS pada September 2008, menudingnya berkonspirasi melawan pemerintah Bolivia sehingga AS membalasnya dengan langkah sama. AS juga menginginkan hubungan lebih baik dengan Presiden Ekuador Rafael Correa dan juga Nikaragua dan bekas pemimpin gerilyanya Presiden Daniel Ortega, katanya.[3]
Obama juga telah mengatakan ia ingin "memulihkan" hubungan dengan pemerintahan komunis di Kuba. Bulan lalu, ia mencabut larangan atas warga Amerika keturunan Kuba yang memungkinkan mereka pergi secara bebas ke Kuba dan mengirim uang kepada saudara-saudara mereka. Tapi embargo perdagangan AS yang diberlakukan atas Kuba setelah revolusi Fidel Castro tahun 1959 akan tetap berlaku. Ia juga mengatakan Presiden Kuba Raul Castro dan saudaranya Fidel Castro harus menunjukkan perubahan atas beberapa isu seperti tahanan politik dan hak asasi manusia.  Dari penjabaran kondisi kawasan AL, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan keberadaan negara kita, Indonesia. Ada beberapa hal yang bisa dipetik, yaitu semangat penguatan integrasi kawasan, walaupun di Asia tenggara hanya ada satu tapi paling tidak keberadaannya dapat optimal bila semua negara anggota berpartisipasi aktif di dalamnya, untuk itu perlu dilakukan mekanisme binding agar nilai-nilai yang ada di ASEAN yang memiliki kesamaan identitas dipatuhi serta batasan pengutamaan kepentingan negara sendiri daripada kepentingan kawasan. Selain itu negara-negara di AL dapat bersatu menentang dominasi asing, berani mengatakan tidak pada ketergantungan ekonomi, jeratan hutang IMF dan Bank Dunia. Hal ini sebenarnya pernah dilakukan Presiden Soekarno beberapa puluh tahun lalu, beranikah kebijakan seperti ini terulang lagi? Yang perlu digaris bawahi cukup semangat nasionalismenya, tanpa harus merubah demokrasi Pancasila yang kita anut menjadi sosialisme, karena bagaimanapun juga Indonesia merupakan anggota non Blok. Apalagi sosialisme murni sebenarnya tidak ada bahkan tidak relevan lagi untuk diterapkan saat ini, mengingat hubungan internasional antar negara, antar kawasan , internasional maupun global semakin dinamis dan rumit sehingga setiap negara butuh berinteraksi (bukan intervensi) dan tidak lagi menutup diri untuk memenuhi kebutuhannya dalam rangka survival.
Referensi
Anonim,2007, Mercosur regional strategy paper.pdf,European Comission
http://www.antaranews.com diakses 7 Mei 2009

"Mercosur." Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2007.
Nogueira, Uziel.,2007, China-Latin America Relations In The XXI Century: Partners Or Rivals?.pdf,CRIS
Robinson, David J. "South America." Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2007.
Vaillant, Marcel.,2005, Mercosur: Southern Integration under Construction.pdf

           


[1] http://www.antaranews.com diakses 7 Mei 2009
[2] Uziel Nogueira. 2007. China-Latin America Relations In the XXI Century: Partners or Rivals?.pdf, CRIS
[3] Ibid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar